Senin, 08 Juni 2015

Mengapa Orang Muslim Tidak Kaya?? Temukan penyebabnya..

Kenapa Saat Ini Banyak Kaum Muslim Tidak
Kaya?

Assallamu'alaikum wr wb.
Bisa dilihat banyak muslimin dan muslimat di negeri ini yang menginginkan rezekinya lancar dan terhindar dari kefakiran selamanya. Alhamdulillah ternyata di dalam ajaran Islam, hal tersebut telah disediakan oleh Allah. Artinya Allah didalam al-Qur'an dan Hadis yang disampaikan melalui Rasul-Nya telah mengupas tuntas bab kerezekian ini. Dengan kata lain kita sebenarnya hanya perlu membuka-buka kembali al-Qur'an dan Hadis, kaji kembali apa petunjuk dari Allah, pahami dengan baik lalu kerjakan apa-apa yang dikatakan oleh Allah dan
Rasulullah. Habis perkara..

Namun banyak di antara kita yang ingin kaya, lalu kita mencari-cari amalan dalam Islam yaitu amalan pembuka pintu rezeki yang bisa membuat kita kaya. Salah satunya adalah amalan ayat
seribu dinar. Kebanyakan kita hanya sibuk mencari-cari amalan, lalu sibuk mengamalkan amalan-amalan tersebut tanpa disertai ikhtiar lahir yang maksimal. Hasilnya tentu saja banyak yang kecewa dan putus asa, karena ia tidak kunjung kaya, atau masih tetap disitu-situ saja kondisinya sementara kita sudah merasa lidah kita ini hampir kering karena banyaknya amalan yang kita baca.

Lalu kita bertanya-tanya,"Apa yang salah? Kenapa sudah lama mengamalkan tapi kok tidak kunjung kaya? Lha itu yang tidak pakai amalan apa-apa kok pada kaya-kaya?"

Apakah anda juga mengalami hal diatas?

Kalau iya, mungkin pemahaman kita perlu dikoreksi kembali..
-          Menjadi kaya itu ada ilmunya. Ada ikhtiar lahir, ada ikhtiar batin. Ada ikhtiar fisik dan ada ikhtiar spiritual.

IKHTIAR LAHIR
Kita perlu belajar ilmu bisnis, ilmu dagang, ilmu marketing, ilmu mengelola keuangan, ilmu kepemimpinan, ilmu investasi, properti, dan ilmu untuk membentuk mental kita. Dan semua ilmu itu ada dalam Islam dan ada dalam diri Nabi serta para Sahabat. Dan inilah yang kita seringkali tidak kaji dan pahami. Dan karena kita tidak kaji dan tidak paham, maka tentu saja sulit bagi kita
untuk amalkan.

IKHTIAR BATIN
Kita perlu rajin-rajin beribadah dan bertaqwa kepada Allah. Kita pun perlu mengkaji amalan-amalan apa saja di dalam Islam yang dapat memurahkan rezeki dan menolak kefakiran. Yang sebagian diulas dalam blog ini. Salah satunya adalah Ayat seribu dinar. Kekayaan itu secara kasat mata lebih dekat dengan ikhtiar lahir. Sesuai dengan hukum sebab - akibat, kekayaan itu adalah akibat dari ikhtiar-ikhtiar lahir dan ikhtiar-ikhtiar batin yang kita kerjakan. Apabila ikhtiar-ikhtiar lahir kita tidak maksimal, maka hasilnya pun tidak maksimal.

ANALOGI
Analoginya begini :
Jika kita mengikuti lomba lari dan kita sangat ingin menang. Maka yang harus kita lakukan adalah memaksimalkan ikhtiar lahir seperti :
Berlatih dengan giat dan disiplin, menjaga kesehatan dan kebugaran, memakan makanan-makanan yang memiliki asupan gizi yang cukup, istirahat yang cukup, dan menjaga kekuatan mental kita. Semuanya haruslah maksimal. Sementara ikhtiar batin. Kita memohon-mohon kepada Allah agar Ia berkenan untuk menjadikan kita pemenangnya. Dengan begitu salah satu manfaat dari doa, adalah agar kita memiliki tambahan kekuatan, yaitu "keyakinan akan memenangi lomba" di hati kita menjadi bertambah, dan beban mental kita berkurang karena Allah kita ikut sertakan. Sewaktu pertandingan dimulai, kita pun akan memaksimalkan ikhtiar lahir kita 100%. Kita akan berlari sekencang mungkin dan seluruh kekuatan kita akan kita gunakan habis-habisan agar garis finish di ujung itu kita lah yang pertama kali mencapainya. Sekarang bayangkan apabila kita hanya memaksimalkan ikhtiar batin kita. Kita hanya sibuk berdoa saja dan memohon-mohon agar Allah berkenan menjadikan kita pemenang lomba lari. Sementara itu kita jarang berlatih, tidak menjaga kesehatan dan kebugaran, makan makanan sembarangan dan minim gizi, istirahat terlalu sering atau malah sangat kurang. Apa jadinya kita saat mengikuti lomba? Jelas dari segi kesiapan saja kita sudah kalah telak dengan peserta lain yang ikhtiar lahirnya lebih maksimal. Dan sewaktu pertandingan bisa dipastikan kita akan jauh tertinggal dari peserta lain yang lebih siap walaupun sewaktu kita lari kita terusterusan membaca lafadz zikir dan doa dan peserta lain sama sekali tidak berdoa dan berzikir. Tapi dapat dipastikan justru yang tidak membaca doa dan zikir itulah yang menang. Kecuali memang Allah benar-benar berkehendak kita lah yang menang. Tapi itu kecil sekali kemungkinannya. Apa yang bisa dipahami dari kasus diatas? Mereka yang melakukan ikhtiar lahir lebih keras, lebih cerdas, dan yang membentuk mentalnya sekuat mungkinlah yang lebih dekat pada kemenangan. Meskipun ia seorang atheis sekalipun dan lawannya adalah orang yang sangat agamis namun tidak maksimal berlatih. Oleh karenanya ikhtiar lahir pun haruslah maksimal. Dan nampaknya hal inilah yang tidak banyak muslim di negeri ini yang memahaminya. Mereka lebih mengandalkan doa, namun ikhtiar lahir tidak dimaksimalkan.

Menjadi kaya tidak dilarang dalam Islam
Memang menjadi kaya itu tidak dilarang, muslim itu haruslah kaya, karena jika kekayaan itu dikuasai oleh pihak-pihak yang memusuhi Islam, umat Islam lah yang repot. Muslim itu haruslah kuat, karena jika kekuasaan dan kekuatan itu dikuasai oleh pihak yang memusuhi Islam, kaum muslim hanya bisa menonton saudaranya di berbagai belahan bumi dibantai, dibunuh, disiksa secara keji, dan dimusnahkan secara massal tanpa bisa berbuat apapun. Bisa apa kita kalau duit saja tak punya, kekuatan tak ada, kekuasaan tak dipegang? Namun ada rambu-rambunya dalam Islam apabila kita ingin menjadi kaya. Rambu-rambunya adalah tidak diperkenankan kekayaan itu malah menjauhkan kita dari Allah, melupakan akhirat, dan tidak mau berbagi kepada sesama, dan justru kita sibuk bermewah-mewahan, bermegahmegahan, dan justru malah rajin bermaksiat dengan kekayaan dan kekuasaan kita. Jika kita mematuhi rambu-rambu tersebut menjadi kaya
itu sah dalam Islam. Tapi apa bisa menjadi kaya kalau kerjaannya cuma berdoa saja? Membaca dzikir-dzikir tertentu saja? Atau hanya ikhtiar batin saja? Sementara Allah SWT saja secara terang-terangan berfirman :

"...Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga
mereka merobah keadaan (mereka sendiri)..." (QS. Ar-Ra'd : 11)

Hal ini menegaskan kita tidak bisa dan tidak diperkenankan hanya mengandalkan kuasa Allah untuk merubah keadaan ekonomi kita sedangkan kita tidak berbuat apapun juga untuk merubah keadaan kita. Tapi Allah pun menghendaki kita agar berupaya (semaksimal mungkin) untuk merubah keadaan kita menjadi lebih baik. Hal ini tentunya dengan mengupayakan ikhtiar-ikhtiar lahir sebaik mungkin sehingga Allah menilai kita pantas untuk diamanahi kekayaan.

Kita lebih suka mengandalkan amalan tapi minim ikhtiar lahir.
Kita jarang mengkaji ilmu bisnis dan ilmu dagang dalam Islam, sementara Nabi kita saja dikenal sebagai pedagang dan pebisnis ulung. Kita jarang belajar ilmu pemasaran, sementara Nabi saja tersohor sebagai marketer kelas wahid, Kita jarang belajar leadership, sementara Nabi penuh dengan teladan-teladan seorang pemimpin. Kita tidak memahami majerial keuangan, cara mendirikan bisnis, dan mental kita sudah kadung terbentuk sebagai pencari kerja. Hal ini menjelaskan kenapa di negeri ini mereka yang bukan muslim tapi justru bisa sangat kaya. Ataupun mereka yang menduduki peringkat orang terkaya di dunia saat ini adalah mereka yang bukan muslim. Karena mereka lebih paham mengenai ilmu di ikhtiar lahir. Mereka lebih paham tentang bisnis, tentang marketing, investasi, leadership, politik, ekonomi makro, teknologi dsb. Disamping itu "mereka" juga secara sengaja menjauhkan akses-akses itu dari umat Islam, menjauhkan umat Islam dari kekuasaan, menjauhkan umat Islam dari pemahaman ilmu-ilmu al-Qur'an dan Hadist.

Sebenarnya intinya adalah kembali lagi kepada ajaran Islam secara komperehensif. Artinya jika kita ingin kaya atau memperbaiki kondisi ekonomi kita, maka kembalilah kepada ajaran Islam yaitu melakukan ikhtiar batin dan juga lahir, kedua-duanya secara maksimal. Kuncinya adalah maksimal kedua-keduanya. Maka itu saya juga memikirkan agar postingan-postingan di blog ini tidak hanya berisi materi ikhtiar batin semata tapi juga ikhtiar lahir. Yang bisa diakses secara bebas dan bisa kita pelajari bersama-sama. Insya Allah..
Wallahu a'lam bishowab..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar