Kenapa
Saat Ini Banyak Kaum Muslim Tidak
Kaya?
Assallamu'alaikum
wr wb.
Bisa dilihat banyak muslimin dan muslimat di negeri ini yang menginginkan
rezekinya lancar dan terhindar dari kefakiran selamanya. Alhamdulillah ternyata
di dalam ajaran Islam, hal tersebut telah disediakan oleh Allah. Artinya Allah
didalam al-Qur'an dan Hadis yang disampaikan melalui Rasul-Nya telah mengupas
tuntas bab kerezekian ini. Dengan kata lain kita sebenarnya hanya perlu
membuka-buka kembali al-Qur'an dan Hadis, kaji kembali apa petunjuk dari Allah,
pahami dengan baik lalu kerjakan apa-apa yang dikatakan oleh Allah dan
Rasulullah.
Habis perkara..
Namun
banyak di antara kita yang ingin kaya, lalu kita mencari-cari amalan dalam
Islam yaitu amalan pembuka pintu rezeki yang bisa membuat kita kaya. Salah
satunya adalah amalan ayat
seribu
dinar. Kebanyakan kita hanya sibuk mencari-cari amalan,
lalu sibuk mengamalkan amalan-amalan tersebut tanpa disertai ikhtiar lahir yang
maksimal. Hasilnya tentu saja banyak yang kecewa dan putus asa, karena ia tidak
kunjung kaya, atau masih tetap disitu-situ saja kondisinya sementara
kita sudah merasa lidah kita ini hampir kering karena banyaknya amalan yang
kita baca.
Lalu
kita bertanya-tanya,"Apa yang salah? Kenapa sudah lama mengamalkan
tapi kok tidak kunjung kaya? Lha itu yang tidak pakai amalan apa-apa kok
pada kaya-kaya?"
Apakah
anda juga mengalami hal diatas?
Kalau
iya, mungkin pemahaman kita perlu dikoreksi kembali..
-
Menjadi kaya itu ada ilmunya. Ada
ikhtiar lahir, ada ikhtiar batin. Ada ikhtiar fisik dan ada ikhtiar spiritual.
IKHTIAR
LAHIR
Kita
perlu belajar ilmu bisnis, ilmu dagang, ilmu marketing, ilmu mengelola
keuangan, ilmu kepemimpinan, ilmu investasi, properti, dan ilmu untuk membentuk
mental kita. Dan semua ilmu itu ada dalam Islam dan ada dalam diri Nabi serta
para Sahabat. Dan inilah yang kita seringkali tidak kaji dan pahami. Dan karena
kita tidak kaji dan tidak paham, maka tentu saja sulit bagi kita
untuk
amalkan.
IKHTIAR
BATIN
Kita
perlu rajin-rajin beribadah dan bertaqwa kepada Allah. Kita pun perlu mengkaji
amalan-amalan apa saja di dalam Islam yang dapat memurahkan rezeki dan menolak
kefakiran. Yang sebagian diulas dalam blog ini. Salah satunya adalah Ayat
seribu dinar. Kekayaan itu secara kasat mata lebih dekat dengan ikhtiar lahir.
Sesuai dengan hukum sebab - akibat, kekayaan itu adalah akibat dari ikhtiar-ikhtiar
lahir dan ikhtiar-ikhtiar batin yang kita kerjakan. Apabila ikhtiar-ikhtiar lahir
kita tidak maksimal, maka hasilnya pun tidak maksimal.
ANALOGI
Analoginya
begini :
Jika
kita mengikuti lomba lari dan kita sangat ingin menang. Maka yang harus kita
lakukan adalah memaksimalkan ikhtiar lahir seperti :
Berlatih
dengan giat dan disiplin, menjaga kesehatan dan kebugaran, memakan
makanan-makanan yang memiliki asupan gizi yang cukup, istirahat yang cukup, dan
menjaga kekuatan mental kita. Semuanya haruslah maksimal. Sementara ikhtiar
batin. Kita memohon-mohon kepada Allah agar Ia berkenan untuk menjadikan kita
pemenangnya. Dengan begitu salah satu manfaat dari doa, adalah agar kita
memiliki tambahan kekuatan, yaitu "keyakinan akan memenangi lomba" di
hati kita menjadi bertambah, dan beban mental kita berkurang karena Allah kita
ikut sertakan. Sewaktu pertandingan dimulai, kita pun akan memaksimalkan
ikhtiar lahir kita 100%. Kita akan berlari sekencang mungkin dan seluruh kekuatan
kita akan kita gunakan habis-habisan agar garis finish di ujung itu kita lah
yang pertama kali mencapainya. Sekarang bayangkan apabila kita hanya
memaksimalkan ikhtiar batin kita. Kita hanya sibuk berdoa saja dan
memohon-mohon agar Allah berkenan menjadikan kita pemenang lomba lari.
Sementara itu kita jarang berlatih, tidak menjaga kesehatan dan kebugaran,
makan makanan sembarangan dan minim gizi, istirahat terlalu sering atau malah
sangat kurang. Apa jadinya kita saat mengikuti lomba? Jelas dari segi kesiapan
saja kita sudah kalah telak dengan peserta lain yang ikhtiar lahirnya lebih maksimal.
Dan sewaktu pertandingan bisa dipastikan kita akan jauh tertinggal dari peserta
lain yang lebih siap walaupun sewaktu kita lari kita terusterusan membaca
lafadz zikir dan doa dan peserta lain sama sekali tidak berdoa dan berzikir.
Tapi dapat dipastikan justru yang tidak membaca doa dan zikir itulah yang
menang. Kecuali memang Allah benar-benar berkehendak kita lah yang menang. Tapi
itu kecil sekali kemungkinannya. Apa yang bisa dipahami dari kasus diatas? Mereka
yang melakukan ikhtiar lahir lebih keras, lebih cerdas, dan yang membentuk
mentalnya sekuat mungkinlah yang lebih dekat pada kemenangan. Meskipun ia
seorang atheis sekalipun dan lawannya adalah orang yang sangat agamis namun
tidak maksimal berlatih. Oleh karenanya ikhtiar lahir pun haruslah maksimal.
Dan nampaknya hal inilah yang tidak banyak muslim di negeri ini yang memahaminya.
Mereka lebih mengandalkan doa, namun ikhtiar lahir tidak dimaksimalkan.
Menjadi
kaya tidak dilarang dalam Islam
Memang
menjadi kaya itu tidak dilarang, muslim itu haruslah kaya, karena jika kekayaan
itu dikuasai oleh pihak-pihak yang memusuhi Islam, umat Islam lah yang repot.
Muslim itu haruslah kuat, karena jika kekuasaan dan kekuatan itu dikuasai oleh
pihak yang memusuhi Islam, kaum muslim hanya bisa menonton saudaranya di
berbagai belahan bumi dibantai, dibunuh, disiksa secara keji, dan dimusnahkan
secara massal tanpa bisa berbuat apapun. Bisa apa kita kalau duit saja tak punya,
kekuatan tak ada, kekuasaan tak dipegang? Namun ada rambu-rambunya dalam Islam
apabila kita ingin menjadi kaya. Rambu-rambunya adalah tidak diperkenankan
kekayaan itu malah menjauhkan kita dari Allah, melupakan akhirat, dan tidak mau
berbagi kepada sesama, dan justru kita sibuk bermewah-mewahan, bermegahmegahan,
dan justru malah rajin bermaksiat dengan kekayaan dan kekuasaan kita. Jika kita
mematuhi rambu-rambu tersebut menjadi kaya
itu
sah dalam Islam. Tapi apa bisa menjadi kaya kalau kerjaannya cuma berdoa saja? Membaca
dzikir-dzikir tertentu saja? Atau hanya ikhtiar batin saja? Sementara Allah SWT
saja secara terang-terangan berfirman :
"...Sesungguhnya
Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga
mereka
merobah keadaan (mereka sendiri)..." (QS. Ar-Ra'd
: 11)
Hal
ini menegaskan kita tidak bisa dan tidak diperkenankan hanya mengandalkan kuasa
Allah untuk merubah keadaan ekonomi kita sedangkan kita tidak berbuat apapun juga
untuk merubah keadaan kita. Tapi Allah pun menghendaki kita agar berupaya
(semaksimal mungkin) untuk merubah keadaan kita menjadi lebih baik. Hal ini
tentunya dengan mengupayakan ikhtiar-ikhtiar lahir sebaik mungkin sehingga
Allah menilai kita pantas untuk diamanahi kekayaan.
Kita
lebih suka mengandalkan amalan tapi minim ikhtiar lahir.
Kita
jarang mengkaji ilmu bisnis dan ilmu dagang dalam Islam, sementara Nabi kita
saja dikenal sebagai pedagang dan pebisnis ulung. Kita jarang belajar ilmu
pemasaran, sementara Nabi saja tersohor sebagai marketer kelas wahid, Kita
jarang belajar leadership, sementara Nabi penuh dengan teladan-teladan seorang
pemimpin. Kita tidak memahami majerial keuangan, cara mendirikan bisnis, dan
mental kita sudah kadung terbentuk sebagai pencari kerja. Hal ini menjelaskan
kenapa di negeri ini mereka yang bukan muslim tapi justru bisa sangat kaya.
Ataupun mereka yang menduduki peringkat orang terkaya di dunia saat ini adalah
mereka yang bukan muslim. Karena mereka lebih paham mengenai ilmu di ikhtiar
lahir. Mereka lebih paham tentang bisnis, tentang marketing, investasi, leadership,
politik, ekonomi makro, teknologi dsb. Disamping itu "mereka" juga
secara sengaja menjauhkan akses-akses itu dari umat Islam, menjauhkan umat
Islam dari kekuasaan, menjauhkan umat Islam dari pemahaman ilmu-ilmu al-Qur'an
dan Hadist.
Sebenarnya
intinya adalah kembali lagi kepada ajaran Islam secara komperehensif. Artinya
jika kita ingin kaya atau memperbaiki kondisi ekonomi kita, maka kembalilah
kepada ajaran Islam yaitu melakukan ikhtiar batin dan juga lahir, kedua-duanya
secara maksimal. Kuncinya adalah maksimal kedua-keduanya. Maka itu saya juga memikirkan
agar postingan-postingan di blog ini tidak hanya berisi materi ikhtiar batin
semata tapi juga ikhtiar lahir. Yang bisa diakses secara bebas dan bisa kita
pelajari bersama-sama. Insya Allah..
Wallahu
a'lam bishowab..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar